Blue Point Bali

Bali memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Salah satunya adalah Pantai Blue Point di Uluwatu yang tidak hanya memiliki air laut yang biru, tapi kencangnya ombak dan tebing-tebing tinggi menambah keeksotisan pantai.

Pantai Blue Point memiliki keunikan jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali lainnya. Pantai ini berada di bawah tebing-tebing terjal yang tinggi. Sehingga untuk mencapai bibir pantai, Anda harus berjalan kaki naik dan turun anak tangga di antara tebing-tebing tersebut.

Pemandangan dari atas bukit sangat indah. Sejauh mata memandang, hanya laut dan langit yang biru cerah. Belum lagi ombak-ombak yang menggiring para peselancar.

Air lautnya yang jernih memiliki ombak yang lumayan kencang. Pantas saja jika pantai ini banyak dikunjungi wisatawan penyuka olahraga surfing. Namun, jika Anda ingin mencobanya, Anda harus ekstra hati-hati karena tebing-tebing yang tajam bisa membahayakan diri Anda.

Uniknya, di antara tebing-tebing tinggi yang dimiliki oleh Pantai Blue Point, banyak dijumpai cafe selama perjalanan menuju pantai. Cafe-cafe tersebut menambah eksotisme keindahan pantai jika dilihat dari atas tebing.

Untuk menuju lokasi Pantai Blue Point, Anda harus mengambil arah ke Pura Uluwatu. Lalu masuk melalui Gapura Blue Point Villas. Tidak ada tiket masuk, Anda cukup membayar tiket parkir kendaraan saja.

Image

Tips Memilih Travel Agent

Gambar

semakin banyaknya hotel dan villa yang di bangun,juga semakin bertambahnya tempat wisata di Bali, membuat pertumbuhan bisnis tour agent semakin berkembang pesat. Bisnis ini masih menjanjikan keuntungan yang besar bagi para pelakunya. Namun tak banyak tour agent yang memiliki reputasi yang baik, ini terjadi karena ketatnya persaingan di bisnis ini. Beberapa diantara mereka berbisnis dengan cara yang tidak baik, dan terkesan hanya mencari keuntungan semata tanpa mempedulikan kualitas dan pelayanan terhadap  customer.

Apakah Anda ada rencana berlibur ke Bali bersama keluarga maupun teman dan sahabat? dan untuk lebih praktis dan nyaman dalam berlibur anda ingin menggunakan jasa Tour Agent? jika jawabannya IYA, ada baiknya anda simak tips dalam memilih tour agent berikut ini, semoga bermanfaat.

1.Jangan Tertarik dengan Harga Murah. Jangan mudah tergiur dengan tawaran paket murah dari Agen travel. Anda harus perhatikan rincian paket yang diberikan, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga tur keliling. Pastikan fasilitas yang diberikan sesuai dengan harga yang ditawarkan.

2.Perhatikan Rute Perjalanan Wisata.  Pilih agen travel yang menawarkan paket wisata sesuai dengan keinginan Anda. Jangan sampai memilih agen dengan paket wisata kunjungan ke tempat yang tidak Anda tahu. Misalkan, dari 10 tempat wisata yang ditawarkan, ada 7 tempat wisata di paket yang memang ingin Anda datangi. Jika ingin menghabiskan banyak waktu sendiri ketimbang bersama rombongan di agen perjalanan, Anda bisa memilihi agen yang menawarkan kunjungan wisata lebih sedikit dan lebih banyak waktu.

3. Pahami dengan Baik Itinerary. Anda harus perhatikan informasi yang diberikan seperti lama perjalanan, objek wisata yang dikunjungi dan juga fasilitas seperti tiket masuk obyek wisata dan transportasi. Anda sebaiknya mengetahui dari awal daftar hotel yang akan digunakan. Dengan begitu akan membantu Anda untuk mengenal seluk beluk lokasi hotel.

4. Tour Guide dan Tour Leader. Tour Leader akan membantu anda dan menemani Anda dari airport keberangkatan hingga kembali. Sementara untuk tour guide akan memandu Anda selama anda mengunjungi obyek-obyek wisata disana nantinya. Pastikan apakah selama perjalanan Anda akan ditemani oleh tour guide dan tour leader.

Itulah beberapa tips dalam memilih tour agent, semoga informasi tersebut dapat bermanfaat bagi Anda. Silahkan hubungi kami:

@ SAMPATTI TOUR untuk informasi lebih lanjut anda bisa kirimkan email ke sampattitour@yahoo.com

JENIS UANG YANG MESTI DIBAWA SAAT LIBURAN

Bagaimana cara membawa uang yang banyak saat di perjalanan? Masalah juga ternyata. Belum lagi memikirkan harga tukar uangnya kalau ke luar negeri. Terutama lagi keamanannya. Dari berbagai jenis uang, pastikan memilih yang cocok dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Setidaknya, ada 4 macam uang yang bisa dibawa saat di perjalanan.

1. Uang Tunai. Jenis uang ini adalah jenis yang paling simpel penghitungannya. Penggunaannya juga paling ramah saat di perjalanan dalam artian ekonomis. Hal yang harus diwaspadai adalah keamanannya karena rentan dengan aksi kriminal misalnya copet, perampokan dan penukaran uang palsu. Bisa juga lupa menyimpan atau terjatuh. disarankan membawa uang tunai secukupnya dan tidak berlebihan. atur pemakaian uang tunai saat anda membelanjakannya.

2. ATM. Jenis uang ini jelas lebih mudah dan ringan membawanya. ATM juga sangat membantu bila membutuhkan transaksi keuangan seperti transfer atau pengiriman uang. Bila menggunakan ATM di luar negeri harus memperhitungkan nilai kurs yang biasanya lebih mahal dan tambahan biaya tarik tunai. Selain itu pastikan di tempat tujuan terdapat mesin ATM dan memiliki kerja sama dengan bank asal ATM. Masih ada beberapa tempat dalam negeri atau negara tertentu yang sangat minim ATM, misalnya pedalaman pulau Kalimantan atau negara Myanmar.

3. Kartu Kredit. Terlihat simpel memang tapi jangan pernah lupa memperhitungkan harga nilai kursnya yang sangat mahal, pembayaran saat jatuh tempo, dan terhitung sebagai utang. Penggunaannya juga tidak bisa di sembarang tempat dan tidak semua negara ramah dengan kartu kredit, terutama asal Indonesia.

Kartu kredit cocok sebagai jenis uang cadangan yang dipakai saat mendesak. Bila tidak, sebaiknya tidak dipergunakan.

4. Treveler cheque atau cek perjalanan. Nyaman untuk dibawa berpergian karena bentuknya simpel. Dicairkan juga bisa sesuai kebutuhan tapi perhitungkan waktu operasional bank. Jangan sampai membutuhkan uang saat bank tutup, saat malam hari atau hari libur misalnya. Pastikan juga bank di tempat tujuan, apalagi di luar negeri, memiliki kerja sama dengan bank yang mengeluarkan cek. Cek perjalanan cocok untuk perjalanan yang panjang, lebih dari 7-10 hari.

Nah itu dia beberapa jenis uang yang bisa anda pergunakan pada saat Anda berlibur. semoga bermanfaat (sumber : Kompas Travel)

TIPS WISATA KE BALI UNTUK PERTAMA KALINYA

Jika Anda berencana melakukan perjalanan ke Bali untuk pertama kalinya, berikut beberapa tips praktis merencanakan wisata di Bali.

Naik apa ke Bali?

Sangat mudah memilih moda transportasi menuju Bali. Ada banyak cara menuju Bali. Paling gampang tentu saja naik pesawat.

Tiket-tiket promo dengan harga di bawah Rp 400.000 sekali jalan sudah banyak ditawarkan. Semua maskapai Indonesia pernah menawarkan tiket-tiket murah ini. Pastikan Anda memesannya jauh-jauh hari, bahkan satu tahun sebelumnya untuk mendapatkan tiket murah.

Jalur lainnya adalah melalui darat, Anda bisa naik bus menuju Bali, terutama jika Anda tinggal di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Harganya variatif tergantung jaraknya. Dari Jakarta ke Bali biasanya sekitar Rp 300.000.

Kapan waktu terbaik datang ke Bali?

Sepanjang tahun merupakan waktu yang baik untuk berwisata ke Bali. Hal ini karena Bali menawarkan beragam aktivitas dan tempat wisata. Di kala hujan, Anda bisa saja mengunjungi museum dan pusat kesenian.

Namun, jika Anda mengincar pantai atau wisata bahari dan gunung, maka pilih di musim-musim kemarau atau bulan-bulan minim hujan, sekitar antara April sampai September.

Selain itu, Anda perlu memperhatikan musim padat kunjungan atau high season maupun peak season. Di masa-masa ini, harga-harga akan naik, terutama untuk tiket pesawat, rental mobil, dan akomodasi. Kenaikan harga bisa mencapai 25 persen. Musim padat kunjungan adalah pada bulan Juni-Agustus dan November-Januari.

Tak hanya harga yang naik, saat ini pun Bali akan ramai dipadati turis. Jadi bersiap untuk kondisi jalanan yang lebih macet dan obyek wisata yang lebih ramai.

Menginap di mana?

Nah, sebelum Anda mencari tahu akomodasi di Bali, tanyakan terlebih dahulu, daerah mana di Bali yang ingin Anda kunjungi. Biasanya, untuk turis yang pertama kali ke Bali akan langsung menuju daerah selatan Bali yang memang pusat keramaian wisata di Bali.

Daerah selatan yang tenar adalah kawasan Kuta. Di Kuta banyak tempat penginapan. Sesuaikan dengan bujet yang Anda miliki. Jika Anda mencari penginapan murah di bawah Rp 300.000 per malam, Anda bisa mencarinya di kawasan sekitar Gang Poppies (1 dan 2), Jalan Three Brothers, Jalan Raya Tuban, Gang Puspa Ayu, sampai Jalan Bakung Sari.

Masuk ke gang-gang kecil dari jalan utama seperti Jalan Raya Kuta dan Jalan Raya Tuban, maka Anda akan menemukan hotel-hotel kecil ala guesthouse yang murah. Beberapa malah seperti kos-kosan dengan harga bisa di bawah Rp 100.000.

Mau yang lebih mewah?

Hotel-hotel berbintang pun bisa Anda temukan di kawasan Jalan Kartika Plaza, Jalan Legian, dan Jalan Raya Kuta. Vila-vila yang menawarkan privasi dapat Anda temukan di kawasan Seminyak seperti di Jalan Drupadi.

Mencari hotel bisa sebaiknya berdasarkan rekomendasi kenalan yang pernah menginap di hotel tersebut sebelumnya. Atau, jika Anda nekat baru mencari hotel saat tiba di Bali, tanyakan saja pada supir taksi tempat menginap yang bisa ia rekomendasikan.

Harus menginap di Kuta?

Jika Anda tidak terlalu senang dengan keramaian dan hingar bingar khas Kuta, Anda bisa pilih destinasi lain di Bali. Coba daerah Sanur, Jimbaran, dan Nusa Dua yang lebih tenang.

Ketiganya berdekatan dengan pantai. Hanya saja hotel-hotel di Nusa Dua tergolong mahal karena berkonsep kawasan resor. Anda juga bisa memilih menginap di kawasan Ubud yang terkesan masih alami. Namun tak ada pantai di kawasan ini. Hanya saja, Ubud berada di kabupaten Gianyar.

Gianyar memiliki banyak obyek wisata yang menarik, seperti kebun binatang, taman safari, wisata budaya, gunung, sampai pantai. Pilihan lain adalah kawasan Lovina, Singaraja, Harga-harga di sini masih murah, baik hotel maupun makanan. Namun jaraknya jauh dari bandara, sekitar tiga jam.

Di timur Bali, daya tarik paling dominan adalah kawasan Candidasa di Karangasem dengan pantainya yang masih relatif tak ramai. Banyak penginapan murah maupun resor mahal di kawasan ini. Pilihan lain adalah Nusa Lembongan.

Sementara Bali Barat, Anda bisa mencoba menginap di kawasan Canggu yang terkenal sebagai tempat selancar atau di sekitar Tanah Lot. Jika Anda penyuka gunung dan udara sejuk, kawasan Jatiluwih atau di seputar Gunung Batukaru bisa menjadi pilihan. Kawasan ini pun relatif masih sepi.

Naik apa di Bali?

Transportasi umum seperti angkutan umum atau biasa disebut di Bali dengan bemo, relatif susah. Armadanya sedikit dan jamnya tak tentu. Jika Anda sudah terbiasa dengan Bali, naik bemo dan bus Trans Sarbagita memang bisa menjadi pilihan.

Namun jika ini pengalaman pertama kali Anda ke Bali, sebaiknya sewa mobil. Pilihan mobil untuk disewa beragam. Paling murah kisaran mulai dari Rp 200.000 sudah termasuk supir, namun belum termasuk bensin. Harga tergantung jenis mobil yang disewa.

Ada baiknya Anda menyewa mobil sekaligus jasa supir, selain menghemat waktu tidak tersesat di jalan, Anda bisa mendapatkan rekomendasi pilihan-pilihan tempat wisata dan rumah makan.

Perlu diingat, sewa mobil dengan supir di Bali hanya untuk 10 jam. Jika pemakaian lebih dari 10 jam, maka penyewa dikenakan biaya tambahan per jam. Untuk mencari sewa mobil sangat mudah, Anda bisa lakukan reservasi melalui online.

Cara lain adalah mencari sewa mobil di bandara ataupun sekitar tempat menginap. Setiap rental mobil biasanya mematok harga tidak jauh berbeda. Namun ada baiknya Anda melalukan sedikit survey untuk mendapatkan harga terbaik.

Pilihan lain adalah menyewa sepeda motor, namun repot jika Anda tak tahu jalan. Bisa juga dengan naik ojek. Negosiasikan harganya untuk mengantar Anda berkeliling seharian. Pilihan ojek cocok jika Anda berwisata sendirian.

Naik taksi bisa menjadi pilihan untuk mengantar Anda dari bandara ke hotel atau sebaliknya. Taksi di Bali relatif aman, termasuk taksi-taksi lokal Bali. Pilih taksi dengan argometer. Anda bisa juga manfaatkan fasilitas mobil antar jemput yang ada di hotel.

Makan di mana?

Mau yang mahal atau yang murah, mau yang lokal khas masakan Indonesia atau masakan asing, semua bisa Anda temukan di Bali.

Namun, berhati-hatilah jika Anda mencari masakan halal. Paling aman, cari rumah makan seperti rumah makan Padang, warung bakso, dan sebagainya. Untuk restoran, Anda bisa menanyakan terlebih dahulu untuk menu-menu halal.

Kawasan Jalan Raya Tuban dan Jalan Teuku Umar termasuk yang terkenal untuk wisata kuliner berupa makanan nusantara dan halal. Coba juga makanan khas Bali berupa nasi jinggo yang mirip seperti nasi kucing ala Yogyakarta.

Isinya hanya nasi, kacang tempe, ayam suwir, dan sambal. Sudah pasti halal dan harganya pun murah, hanya sekitar Rp 2.000. Tetapi tak cukup satu jika memakan nasi jinggo.

Bagaimana kalau menginjak banten?

Banten atau sajen berupa bunga dan persembahan lainnya dalam wadah janur (canang sari) biasa diletakkan di pintu masuk dan area-area yang sering dilalui orang. Seringkali muncul pertanyaan bagaimana kalau tidak sengaja terinjak.

Sebenarnya tidak masalah jika memang Anda tak sengaja menginjaknya. Jika Anda menginjaknya di depan pemilik atau penjaga toko atau tempat sajen itu diletakkan, cukup berkata ”maaf”.

Sebaiknya saat berjalan, hindari dengan melewatinya, jangan sampai Anda malah sengaja menginjaknya. Sama halnya dengan saat Anda berkunjung ke pura atau tempat-tempat yang dianggap suci oleh masyarakat setempat.

Hargai dan ikuti istiadat setempat. Gunakan pakaian yang sopan. Jika Anda mengenakan celana pendek, pakailah sarung atau kain. Beberapa tempat juga mewajibkan Anda mengenakan kain sarung dan senteng.

Jangan berjalan di depan orang yang sedang bersembahyang ataupun memotret dengan flash saat upacara berlanjung. Untuk perempuan, jangan masuk ke dalam saat sedang datang bulan. (SUMBER : KOMPAS/TRAVEL)

India Food Test

Pengalaman pertama penulis mencicipi masakan India berbuntut pada terganggunya sistem pencernaan penulis hahahahah..😀 maklum penulis adalah seorang menikmat masakan rumahan, kalaupun harus makan di luar rumah itu masih sebatas menu dalam negeri contohnya nasi pecel😀

Cerita bermula pada hari sabtu kemaren, saya mengantar Ibu Bos untuk berkeliling santai di daerah seminyak dan sekitarnya. Tujuan kami sebenarnya adalah mencari vendor hotel, villa, resto yang bisa diajak bekerjasama dengan Sampatti Tour n Travel kami. dengan gaya maksimal awalnya kami ingin menelusuri setiap sudut daerah seminyak dengan berjalan kaki dimulai dari Pantai Pettitenget, namun sayang sekali udara yang cukup panas ternyata meruntuhkan niat kami untuk berjalan kaki hahahahah… akhirnya setelah berjalan beberapa meter kami putuskan berbalik arah menuju tempat parkir sepeda motor. 

Wahh…. ada penjual sate babi.. pas sekali perut sudah mulai kroncongan pengen diisi maklum jam tangan saya sudah menunjukan pukul 12 siang, akhirnya saya dan Ibu Bos menyantap sate Babi dengan tipat dan sambal di pantai pettitenget dengan harga Rp. 10.000 sedappp…😀 lumayan kami jadikan amunisi untuk melanjutkan penjelajahan.

Lanjut menyusuri jalan di seputaran seminyak kami meluncur ke arah Legian untuk bertemu dengan salah satu teman yang kebetulan merupakan sales marketing salah satu hotel di legian sehabis urusan kami beres jam sudah menunjukan pukul 4 sore itu artinya sudah saatnya mulai berburu makanan kembali😀 awalnya ingin mencari tempat yang nyaman hanya sekedar untuk menikmati cemilan sore,namun saat itu kami tidak menemukan tempat yang kami inginkan ini pertanda kami belum kenal benar dengan wilayah ini😦 Sepanjang jalan kami tengak-tengok kiri kanan stop kami melihat ada Warung yang menjual masakan Indonesia namanya Warung Ocha kami parkir motor tepat di depan warung. Wooww rame sekali orang yang makan di warung ini tidak hanya lokal tapi juga orang asing, dan di etalase makanan tampaknya sudah banyak yang habis, saat kami tanya ke mbak pelayannya apakah ada menu lain si mbak menjawab “sedang dimasak dan belum matang” agak sedikit judes sich dengan kami😛 Akhirnya kami batalkan untuk makan di warung Ocha kami pacu motor menuju arah ke seminyak lagi, Ibu Bos bertanya pada saya “ehh mau makan dimana?” pertanyaan itu sebenarnya membuat saya bingung untuk menjawabnya alasannya ya karena jika makan di daerah tersebut selain mahal kadang pelayanannya agak kurang ramah dengan tamu lokal seperti kami. Saya menjawab pertanyaan Ibu Bos “ya terserah ibu deh, saya mah ngikut ajah..:)” pas saat itu motor kami berhenti persis di depan resto India namanya Queens Tandor dari sinilah cerita ini di mulai hehehehhe.. awalnya Ibu Bos tidak yakin untuk mengajak saya makan di Resto ini, alasannya tentu rasa yang tidak pas di lidah saya karena saya belum pernah mencicipi makanan India. Namun karena saya sendiri sebenarnya sangat penasaran dengan rasa masakan India dengan keyakinan yang mantap saya bilang “Ok bu.. kita makan di sini aja, yakin kok gax bakal kenapa2” hahahhaha… akhirnya setelah memberi keyakinan yang mantap jadilah kiat memesan makanan di Queens Tandor Resto. Hal yang membuat saya takjub bukan hanya rasa makanannya, tapi juga pelayanannya.. aaaiiiihhh.. Pelayanannya ramahhhhhh sekaliiii…😀 mbak waitress tidak segan-segan memberi kami referensi menu yang pas dengan lidah kami (terutama saya), dengan antusias dia menjelaskan, penuh dengan senyum dan menyakinkan saya jika menu yang nanti dipesan akan pas dengan lidah saya. Ibu Bos jangan di tanya lagi, beliau sudah biasa makan masakan India, Beliau sudah 2 kali pergi ke India selama 12 hari di India Beliau selalu makan masakan India, mungkin itu juga yang membuat Beliau jatuh hati dengan makanan India.

Ini nich menu yang kami pesan
nasi briani
Nasi Briani dengan daging ayam awalnya saya fikir ini nasi kuning ala India😀 Nasinya terlihat berbeda dengan nasi yang biasa saya makan, ukurannya lebih kecil dan panjang, rasan nasi briani langsung nendang di mulut dengan bumbu khas India yang medok sekali ( kata Ibu Bos Ini belum seberapa, Di negara asalnya India lebih medok rasanya dari ini) jika suatu saat mesti makan nasi briani lagi.. masih ok lah😀

Menu ke-2
kari kambing
Rogan Josh (kari Kambing) menu yang ini tidak jauh beda rasanya dengan Nasi briani bumbu yang pedas, bumbu kari yang medok,rempah-rempah yang beragam, jujur saya tidak bisa mengidentifikasi satu-persatu rempah-rempah yang ada di menu tersebut. Begitu masuk mulut jederrr… hahahhaha…
kari kambing ini ada temen makannya namanya roti nanroti nan

Menu ke-3
ini sebenarnya appetizer menu, tapi tak apalah saya bahasnya di menu ke-3 hehehhe
namanya krupuk India dalam bahasa Indianya saya kurang paham, tapi krupuk ini tidak terlalu membuat saya kaget, karena sebelumnya sudah pernah makan yang langsung didatangkan dari India cuma yang dari India itu digoreng sedangkan yang saya makan di Queens Tandor resto dimasak dengan cara dipanggang untuk rasa tentu lebih nendang yang langsung berasal dari India:Dkrupuk india
untuk minumnya kami cukup memesan es teh manis agar ada nuansa Indonesianya hehehheheh…
Menu yang kami pesan memang tidak banyak ini berhubung karena porsi yang dsajikan adalah porsi orang India (porsi jumbo)😀 jadi untuk jaga-jaga makanan tidak habis kami pesan secukupnya saja.

Sukses mancicipi makanan India lalu sangat terkesan dengan pelayanannya dan juga rasa dari makanan India itu sendiri tidak membuat saya kapok untuk mencicipi kembali makanan India di kemudian hari. Tapi tidak dengan perut saya, setelah selesai menyantap makanan di Queens Tandor Resto dengan hati riang saya kembali pulang, sore menjelang malam semuanya masih lancar, tapi menjelang pagi hari mulailah saya mondar-mandir ke toilet, rasa mulas di perut, kembung dan sendawa saya rasakan sepanjang pagi, akhirnya saya putuskan untuk meminum obat anti diare dan beristirahat. Sepertinya perut saya kaget diterjang nasi briani dan kari kambing.😀 :D:D

TRADISI NGUREK/ NGUNYING

Ngurek adalah atraksi menusuk diri dengan menggunakan senjata keris, ini berlangsung ketika para pelaku berada dalam keadaan trance (diluar kesadaran). Ngurek berkaitan erat dengan ritual keagamaan bahkan disejumlah desa adat di Bali tradisi ini wajib dilangsungkan. Ngurek bisa disebut juga dengan Ngunying, Ngurek merupakan wujud bakti seseorang yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Ngurek termasuk dalam upacara Dewa Yadnya yaitu pengorbanan/persembahan suci yang tulus ihklas. Menurut ajaran agama Hindu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia, mahluk hidup beserta isinya berdasarkan atas Yadnya, maka dengan itu manusia di harapkan dapat memelihara, mengembangkan dan mengabdikan diri nya kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Ngurek berasal dari kata ‘urek’ yang berarti melobangi atau tusuk, jadi Ngurek dapat diartikan berusaha melobangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris, tombak atau alat lainnya saat berada dalam kondisi kerasukan. Karena Ngurek dilakukan dalam kondisi kerasukan atau diluar kesadaran, maka roh lain yang masuk ketubuh akan memberi kekuatan, sehingga orang yang melakukan Ngurek ini menjadi kebal, dan ini merupakan suatu keunikan sekaligus misteri yang sulit dijelaskan.

Tradisi Ngurek tidak tahu kapan mulai dilakukan, konon ini terjadi pada jaman kejayaan kerajaan. Saat itu  sang raja ingin membuat pesta yang tujuannya untuk menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus menyenangkan hati para prajuritnya. Setelah dilakukan sejumlah upacara, kemudian memasuki tahap hiburan, mulai dari sabung ayam, hingga tari-tarian yang menunjukkan kedigdayaan para prajurit, maka dari tradisi ini munculah Tari Ngurek atau Tari Ngunying.
Ngurek, menusuk diri dengan keris dalam keadaan kerasukan atau tidak sadar ini pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku, namun kini orang yang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya,bisa pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat,  laki-laki dan perempuan. Tapi suasananya tetap yaitu mereka melakukannya dalam keadaan kerasukan atau trance. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan ketubuh, namun tidak setitikpun darah yang keluar atau terluka.
Ngurek ini biasa dilakukan di luar kompleks pura utama. Sebelum Ngurek dilakukan, biasanya Barong dan Rangda serta para pepatih yang kerasukan itu keluar dari dalam kompleks pura utama dan mengelilingi wantilan pura (bagian dari bangunan pura) sebanyak 3 kali. Saat melakukan hal itulah, para pepatih mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi.

Kerasukan dalam Ngurek, biasanya terjadi setelah melakukan proses ritual. Untuk mencapai klimaks kerasukan, mereka harus melakukan beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga  yang terdiri dari:

  1. Nusdus adalah merangsang para pelaku ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerasukan.
  2. Masolah merupakan tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan.
  3. Ngaluwur berarti mengembalikan pelaku ngurek pada jati dirinya

Masuknya roh kedalam diri para pengurek ini ditandai oleh keadaan: badan menggigil, gemetar, mengerang dan memekik, dengan di iringi suara gending gamelan,  para pengurek yang  kerasukan, langsung menancapkan senjata, biasanya berupa keris pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu, leher, alis dan mata, walaupun keris tersebut ditancapkan dan ditekan kuat kuat secara berulang ulang, jangankan berdarah, tergores pun tidak kulit para pengurek tersebut, roh yang ada didalam tubuh para pengurek ini menjaga tubuh mereka agar kebal, tidak mempan dengan senjata.
Ngurek mempunyai gaya masing-masing, ada yang berdiri sembari menancapkan keris ke bagian tubuh, seperti dada atau mata, ada pula yang bersandar di pelinggih. Setelah upacara selesai, para pelaku ngurek kembali ke kompleks pura utama.

Tradisi Ngurek ini merupakan kebiasaan masyarakat Bali, dimana saat upacara mengundang roh leluhur dilakukan, para roh diminta untuk berkenan memasuki badan orang-orang yang telah ditunjuk, dan menjadi sebuah tanda, bahwa roh-roh yang diundang telah hadir di sekitar mereka. Tradisi Ngurek juga dipercaya, untuk mengundang Ida Bhatara dan para Rencang-Nya (para abdi/pengawal), berkenan menerima persembahan ritual saat upacara. Jika orang-orang yang ditunjuk sudah kerasukan dan mulai Ngurek, maka masyarakat bisa mengetahui dan meyakini kalau Ida Bhatara sudah turunnya ke marcapada (dunia), maka umat yang mengikuti prosesi ritual kian mantap dengan semangat bhaktinya. (sumber : Blog kebudayaan)

NGUREK / NGUNYING TRADITION

Ngurek is a self-stabbing attraction with an Indonesian traditional weapon called “keris”. This is happening when the executor was in a trance condition. This attraction has a very strong connection with a religion (Hindu’s) ritual; furthermore, in some area of Bali, Ngurek tradition is a must to do as part of their culture. Sometimes Ngurek can be called “Ngunying” means a worship and giving respect to God (Sang Hyang Widhi Wasa). This is part of the “Dewa Yadnya” Ceremony, which is a sincere scarification ceremony. Based on Hindu’s religion, GOD created a human being and the entire Universe, therefore they supposed to take care, develop and sacrifice their selves to their GOD (Sang Hyang Widi Wasa)


Ngurek comes from a word “Urek” means stab or making a hole, so basically it means to try making a hole or stabbing part of your own body with the weapon (Keris, spears, etc) in a trance condition because it will let the other soul / spirit to get in to your body by having a strong power, resistance to any weapon. This is one of the unique traditions as well as the indescribable mystery of Bali culture and ceremony.
Ngurek tradition apparently happened in a Kingdom Glory Era. That time the King was making a celebration to show his gratitude to GOD as well to please all his warriors. Starting from Chicken battle ceremony, a Balinese traditional dance that shows the glorious of the warriors then followed by the Ngurek dance tradition. Originally Ngurek was executed by the holy person, but now days everybody in different caste and status, women and men can do this Ngurek dance tradition. In one condition, anyone who was doing this dancing must in a trance condition. Despite, the weapon stabbed to any parts of their bodies, not even a scratch or blood drop from it, usually this dance is taken place in the main area of the Holy Temple. Beforehand, the “Barong & Rangda Dance” with all the trance warriors went out from the Holy Temple and went around to the “Wantilan” (part of the Temple building) for 3 (three) times. When they did these things, the warriors became in their highest trance spiritual.
The process of being trance in Ngurek usually happened after doing all the ritual process. To get to the trance climax, they have to take few steps. In general it was divided into three parts such as:
1.Nusdus : stimute the Ngurek executor with a smoke that has a very strong scent
2.Masolah : the dancing part with the “Kecak” sound and gamelan instrument
3.Ngaluwur : bringing back the Ngurek executor to the normal indentity before trance condition
The sign of the soul / spirit has already inside of the executor’s body shows by some condition such as body shaking, shouting / screaming followed by gamelan instrument. Once they trance, they will start to stab with the Keris weapon to parts of the body such as chest, forehead, shoulder, neck, eyebrow, and eyes. Even though, those weapons stabbed and pushed really hard to their bodies repeatedly, not even bloods or any scratch to the executor’s skin. It’s all because of the spirit protecting them and empowering them from getting hurt through the sharp weapon. Each of the executors has their own style when they were trance. Some of them were standing while stabbing their body, the others would leaned on the Temple and the rest would run around still stabbing their body. After the ceremony is done, the Ngurek executor went back to the main of Temple area.

Ngurek Tradition is one of the most common spiritual traditions in Bali. During the ceremony inviting the ancestor spirit, these spirits were asking politely to enter the appointed people, and then it becomes the sign that the spirit has already come. Ngurek tradition also believed to invited the “Ida Bhatara” and all his warriors to delightly accept the ritual ceremony offering. Once the appointed people starting to trance and Ngurek, the society knows and believes that the Ida Bhatara (GOD) has already come down to the world, the procession of ceremony will become holier and solemn. (Source : Culutre Blog)

TRADISI OMED-OMEDAN (Tarik-menarik)

omed2

Berbicara mengenai tradisi yang ada di Bali memang tidak akan pernah habis dibahas. Sebagai daerah tujuan wisata Bali selalu memiliki hal yang menarik baik itu alam, budaya maupun tradisinya. Bali memiliki banyak sekali tradisi yang unik yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, salah satunya adalah tradisi “Omed-Omedan” jika dalam bahasa Indonesia berarti saling tarik menarik. Tradisi ini bisa kita temukan di Br. Sesetan Kaja, Denpasar Bali, Omed-Omedan dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepatnya pada ngembak geni yaitu sehari setelah perayaan hari raya Nyepi.

Sejarah Omed-Omedan

Konon mulanya, usai Hari Raya Nyepi, teruna-teruni (pemuda-pemudi) sekitar kerajaan Puri Oka menggelar permainan med-medan. Mereka tarik-menarik, semakin seru dan gembiranya mereka kemudian saling merangkul, dan keadaan menjadi gaduh karenanya. Susasana ricuh tersebut di dengar raja Puri Oka yang sedang sakit, beliau marah besar dan kemudian ia berniat keluar untuk menghardik sumber kegaduhan tersebut. Namun setibanya ia diluar dan menyaksikan adegan itu, amarahnya hilang. Sejenak rasa sakitnya berkurang, dan mendadak hilang hingga ia sehat seperti sedia kala. Sang raja dapat tersenyum, dan bahagia kembali.
Semenjak saat itu, raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan dilaksanakan tiap tahun, tiap tanggal satu tahun Cakka kalender Bali, atau yang dikenal dengan Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Menurut I Gusti Ngurah Oka, tradisi ini merupakan luapan kebahagiaan anak-anak muda saat Ngambek Geni. Selain sebagai unsur hiburan, sampai saat ini tradisi omed-omedan memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah penghormatan terhadap leluhur, memupuk rasa kesetiakawanan dalam kerangka saling asah, asih dan asuh. Juga menjaga keharmonisan hubungan sesuai dengan norma yang berlaku, membangun solidaritas dan persatuan masyarakat dalam situasi bahagia.
 
Prosesi Omed-Omed
 
 
Para teruna-teruni yang mengikuti tradisi adalah warga Banjar yang menginjak dewasa namun belum menikah, umumnya berusia 17 hingga 30 tahun. Sebelum acara dimulai sekitar pukul 14.00 wita, mereka berkumpul untuk bersembahyang bersama. Seusai kegiatan tersebut, semua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Yang putra menjadi satu barisan, dan yang putri berada pada barisan lain. Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Peserta yang akan melakukan tradisi ini digendong sesuai urutannya, kemudian di pertemukan dengan pasangan lawan jenisnya. Setelah bertemu pada suatu titik kemudian mereka saling tarik menarik, berpelukan dan berciuman disaksikan ribuan penonton termasuk warga sekitar.
      Prosesi tersebut dilakukan bergantian dan bergiliran hingga semua peserta kebagian berciuman. Namun menurut cerita, untuk mencium pasangan tidaklah mudah, mengingat ramainya dan berjubel para penonton yang memadati area. Bagi mereka yang berhasil mencium pasangannya, dibolehkan berhenti setelah para tetua adat membunyikan peluit. Jika tidak berhasil, pasangan tersebut akan disiram air hingga basah kuyub. Awalnya siraman air ini hanya diberlakukan untuk pasangan yang gagal berciuman, namun karna antusias dengan kemeriahan tersebut, hampir tiap peserta diguyur setelah usai berciuman. Sehingga tradisi ini memang rentan dengan air dan basah-basahan.