PURA BESAKIH

Image

Penduduk Bali mayoritas beragama Hindu, dimana tempat beribadahnya dinamakan Pura. Menjadi mayoritas, maka tak heran jika di Bali dikenal dengan Pulau seribu Pura. Hari ini penulis akan membahas tentang Pura terbesar di Bali yaitu Pura Besakih atau dalam istilah asing disebut The Mother of Temple. Pura Besakih terletak persis di kaki Gunung Agung, Pura Besakih adalah pura yang komplek dengan Pura Penataran Agung sebagai kepala. Pura Penataran Agung terletak di tengah. Di Pura Besakih, ada 3 perwujudan besar pemujaan dari Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Bahwa 3 perwujudan tersebut adalah Brahma, Wisnu, dan Siwa. Pura-pura lain di komplek Pura Besakih sebagian untuk tempat ibadah leluhur, yang dibagi menurut tatanan masyarakat kuno, yaitu “Catur Warna”. Sebagian Catur Warna juga disebut istilah “Pasek”. Ada banyak jenis Pasek, yaitu Pasek Gelgel, Pasek Kayuselem, dan lain-lain.

Image

Sejarah Pura besakih

Diceritakan Resi Markandeya yang merupakan seorang pertama yang berasal dari Hindustan ( India) yang oleh para pengiring-pengirngnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapam dan kebijaksanaannya. Pada mulanya sang yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung hyang itu adalah Gunung Dieng di Jawa Tengah). saking lamanya Beliau bertapa di sana, sehingga mendapat titah dari Ida Sang Hyang Widhi ( Tuhan Yang Maha Esa) agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di Pulau Dawa ( Bali) setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya. Sang Yogi Markendeya melaksankan titah tersebut dan segera berangkat ke arah Timur bersama para pengikutnya. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi menyuruh semua para pengikutnya merabas hutan, beberapa lama merabas hutan banyak para pengiring Sang Yogi yang sakit lalu mati dan ada juga yang mati dimakan oleh binatang buas, itu terjadi karena tidak didahului dengan upacara yadnya. Kemudian perebasan hutan dihentikan dan Sang Yogi kembali ke tempat pertapaannya semula, selang beberapa waktu Sang Resi tinggal di sana lalu pada suatu hari yang dianggap hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan perebasan hutan, disertai memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Sang Yogi segera melakukan tapa yoga bersama para Yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya. 

Ditempat di mana dimulai perebasan hutan Sang Yogi Markandeya menanam Kendi berisi air, juga pancadatu yaitu berupa logam emasn perakn tembaga, besi dan perunggu disertai Mirah Adi (permata utama) dan upakara (Banten/ sesajen) dan diperciki tirta (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama BASUKI, begitulah asal mula adanya desa dan Pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.

Lokasi Pura Besakih

Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem. Letak Pura ini di kaki Gunung Agung pada lereng Barat Daya pada ketinggian lebih kurang 1000 meter dari permukaan laut yang berjarak dari kota Denpasar lebih kurang 59 km. Gunung Agung yang tingginya lebih kurang 3142 meter adalah gunung yang tertinggi di bali, dan merupakan gunung berapi yang kini masih aktif. Menurut catatan yang ada, gunung Agung sudah pernah meletus lima kali yaitu pada thn 1089, tahun 1143, tahun 1189 dan terakhir pada tahun 1963. Untuk menuju ke sana Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi, jika ini kunjungan Anda yang pertama kali mungkin anda memerlukan sopir yang langsung menjadi tour guide Anda. Perjalanan dari Denpasar ke Pura Besakih membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Dalam perjalanan 2 jam tidak akan terasa lama, karena pemandangan sepanjang jalan yang akan dilalui sangat indah dan udara yang sejuk akan menemani dalam perjalanan menuju ke pura Besakih.

Untuk bisa memasuki kawasan suci Pura Besakih diberlakukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh semua para pengunjung. Beberapa peraturan itu : memakai pakaian yang sopan (biasanya ada tambahan memakai selendang untuk ikat pinggang dalam bahasa Bali disebut Anteng dan sarung (kamen) ini biasanya bisa disewa di sana) dan bagi wanita yang sedang menstruasi dilarang memasuki area pura. Jika beruntung, wisatawan dapat melihat kemegahan Gunung Agung. Pemandangan akan tambah sangat indah, terutama pada saat perayaan yang ramai oleh masyarakat Hindu yang berdoa. Gunung Agung, Pura Besakih dan masyarakat hindu Bali yang berdoa adalah gambaran keseimbangan antara manusia dan lingkungannya. (berbagai sumber)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s