TERTERAN (PERANG API PENGUSIR ROH JAHAT)

Desa Jarsi di Kabupaten Karangasem mengenal tradisi Terteran.Tradisi ini digelar setiap 2 tahun sekali, terkait dengan digelarnya upacara Aci Muu-Muu yang diselenggarakan tiap pengrupukan rainan tilem kesanga, sehari sebelum hari raya Nyepi.

 

  Saat Sandykala (jam 6 sore), matahari mulai terbenan di ufuk barat, persiapan Terteransegera akan dimulai. Diawali sekitar 50 orang laki-laki tua-muda dari jero mangku (pemuka agama) Prajuru desa ( tetua desa) dan pengikut lainnya dengan mengenakan kain putih serta kepala terikat daun enau berangkat berjalan kaki menuju pantai Jasri yang berjarak 500 meter di sebelah selatan desa untuk melarung caru (menghayutkan sesajen). Sekembalinya mereka dari melarung caru ke laut malam sudah menyelimuti bumi. Tak ada lampu penerangan di jalan maupun rumah. suasananya benar-benar kelam. Begitu memasuki perempatan jalan mereka pembawa caru dihadang serta diter (lempar) bobok ( obor) oleh puluhan warga desa. Lemparan bobok itu dilakukan ditiga titik lokasi disepanjang jalan dari pantai menuju Pura Bale Agung. Pembawa caru tidak boleh melawan, hanya menangkis saja dengan obor yang mereka bawa, serta terus berlari bergegas-gegas menuju pura Bale Agung.

 

Maksud melempar obor, bahwa sekembalinya pembawa caru dan pengiringnya dari pantai diperkiran masih diikuti oleh sejumlah roh jahat yang dapat mengganggu ketentraman lingkungan, karena itu ia harus dinetralisir dan tidak boleh masuk ke wilayah desa, sehingga alam lingkungan desa menjadi tentram. Suasana malam itu betul-betul kelam dan tegang, tanpa seberkas sinar lampu yang terlihat hanyalah pancaran sinar obor dikegelapan malam.

Setelah pembawa caru dan pengiringnya sampai di Pura Bale Agung sekitar jam 7 malam barulah digelar Terteran massal. Terteran kali ini sebagai tambahan dan lebih seru dan menegangkan karena terjadi adu saling serang dari pasukan dua kelompok. Melibatkan sekitar 60 orang krama laki-laki, tua-muda terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok warga lingkungan Jarsi Kaler versus kelompok warga lingkungan Jarsi Kelod.

Atraksi Terteran digelar sepanjang jalan raya umum tepatnya di depan Balai Masyarakat Jarsi. Jalan raya yang menghubungkan kota Amlapura-Denpasar sementara ditutup sekitar selama hampir 2 jam. “Medan perang” yyang boleh dijelajahi kedua kelompok berhadap-hadapan arah Utara-Selatan, itu terpisah oleh batas wilayah kelompok berupa bentangan daun enau yang diikatkan didua penjor yang ditancapkan disebelah Barat dan Timur jalan raya.

 

  Bobok (obor) yang dipakai ngeter (melempar) itu terbuat dari seikat dayuh (daun kelapa kering) yang berukuran sekitar 80 cm. ditengah ikatan dayuh terdapat sebatang kayu kecil berukuran seperempat dari panjangnya obor. Hal itu dimaksudkan agar lemparan obor lebih jauh, cepat, keras dan helaian dayuh tidak lepas terurai. Para pemainnya, laki-laki, tua-muda tidak mengenakan baju, mereka hanya mengenakan kain atau celana. Begitu peluit dibunyikan oleh petugas sebagai tanda bahwa perang dimulai, mereka silih berganti menyerang, obor berseliweran menyerang lawan dari atas maupun bawah, bahkan sampai saling berbenturan antara teman sendiri. Semburan api yang terlempar sangat indah, seperti kunang-kunang dikegelapan malam. Para penonton saling bersorak-sorai menertawakan mereka yang terkena lemparan obor, sebab bukan tidak mungkin tubuh mereka akan terbakar terkena lemparan obor dari lawan. Begitu suara lemparan obor menyeruak di udara, suara riuh rendah penonton terus menggema memberikan semangat. karena kegiatan ini merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak turun temurun, meski luka bakar, perih dan sakit berbaur jadi satu namun bagi mereka itu bukanlah hal yang serius yang perlu ditakuti. Karena jika  sudah memegang seikat obor yang menyala ada gejolak semangat peperangan  yang membara dalam hati mereka.

 

Yang unik dari acara ini adalah kedua kelompok yang berperang ternyata memiliki strategi  masing-masing dan tentunya ada kerjasama yang ditimbulkan untuk dapat melempar obor agar tepat sasaran. Acara ini berlangsung  hampir satu jam dan terdiri dari tiga babak, berakhirnya babak ditandai dengan bunyi peluit oleh petugas. Peperangan akan benar-benar berakhir apabila habisnya bara obor tersebut. Atraksi “perang api massal” Terteran bukan hanya digelar saat malam pengrupukan (sehari sebelum nyepi) saja, tetapi akan diselenggaraka lagi sehari setelah nyepi “perang tanding”  Terteran ditempat yang sama. Momen ini memberi kesempatan bagi mereka (warga atau bahkan para wisatawan) yang tidak sempat menonton pada hari sebelumnya.

 

Ingin menyaksikan Tradisi ini? siapakan diri anda untuk segera berlibur ke Bali dan silahkan hubungi kami atau kirim email anda ke sampattitour@yahoo.com untuk paket tour yang anda perlukan.

 Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s